Untuk survei proyek properti, yang dijadikan responden adalah pemilik perumahan atau properti yang tinggal di area yang disurvei dan terdiri dari:
1. Publik: Social Economic Status (SES) A dan A+, usia minimal 25 tahun serta tinggal di kota yang disurvei.
2. Investor: Memiliki minimal 1 properti selain yang ditinggali dengan dengan nilai properti minimal 1 miliar rupiah
Sedangkan untuk jasa dan produk properti, responden terdiri dari:
1. Publik: Social Economic Status (SES) A dan A+, usia minimal 25 tahun serta tinggal di kota yang disurvei.
2. Kontraktor, arsitek, dan pelaksana proyek properti.
Pemilihan responden dalam survei ini penting mengingat responden harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang proyek properti di area sekitarnya dan juga jasa dan produk properti yang ada di pasar.
Oleh karenanya, responden yang terpilih dalam survei ini pun memiliki kategori yang spesial. Sementara cara pengambilan sampel mengikuti kaidah survei, yakni dengan menggunakan metode Multistage Random Sampling.
Ada lima variabel yang dipergunakan dalam survei Top Property Award. Framework ini sebenarnya terinspirasi oleh konsep brand equity dari Kevin Keller. Namun, untuk keperluan TPA, framework tersebut diselaraskan dengan industri properti.
Berdasarkan framework yang dibangun ini, sebuah properti akan menjadi properti yang top di mata konsumen karena didorong oleh beberapa variabel:
1. Popularity Driven: Properti atau produk/jasa tersebut dikenal oleh konsumen maupun investor properti.
Sebagai contoh, ketika hendak memilih rumah atau apartemen, Anda pasti mempertimbangkan perumahan atau apartemen yang sudah dikenal masyarakat luas.
Paling tidak, developer dari properti tersebut sudah Anda kenal baik sehingga proyek properti yang dibangun pun ikut terdongkrak oleh merek developer.
2. Investment Driven: Properti tersebut memiliki ‘value’ yang tinggi di masa depan. Sementara untuk produk/jasa properti, nilai investasi dilihat dari sisi ‘value for money‘ produk/jasa tersebut.
Ketika membeli rumah atau apartemen maka nilai sewa atau nilai jual kembali dari rumah tersebut akan menjadi bahan pertimbangan. Anda tentu tidak mau membeli properti yang nilai jual kembalinya rendah.
3. Quality Driven: Properti tersebut berkualitas dari sisi lokasi, desain, dan berorientasi kepada lingkungan hijau. Sementara kualitas produk properti tercermin, misalnya, dari kekuatan dan keawetan produk tersebut.
Lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih sebuah properti. Lokasi yang dipilih tentunya harus dekat dengan mobilitas si pemilik properti. Experience yang tercermin dari desain properti juga menjadi pertimbangan, selain juga lahan hijau yang ada.
4. Emotional Driven: Properti atau produk tersebut menciptakan ‘emotional benefit’ yang tinggi seperti rasa bangga.
Anda mungkin tinggal di pinggir kota seperti Bekasi dan Tangerang, Tetapi ketika Anda tinggal di perumahan yang bergengsi seperti BSD atau Bintaro, mungkin Anda akan merasa bangga.
5. Recommendation Driven: Properti atau produk/jasa tersebut direkomendasikan oleh pihak lain.
Ketika memilih properti, maka properti yang banyak diperbincangkan orang menjadi pertimbangan Anda juga. Apalagi jika direkomendasikan oleh banyak pihak.
Kelima variabel ini menjadi pembentuk indeks Top Property Award, yang menggabungkan kelima variabel tersebut dengan menggunakan weighted propotional analysis.*
toppropertyaward.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar